kursus komputer

Advertorial

Seminar Peran Pajak dalam Mengatasi Kesenjangan Ekonomi di Indonesia

Seminar Perpajakan Nasional / Doc. Media Center PKN STAN

Sebagai salah satu rangkaian acara Pekan Raya Perpajakan Nasional (PRPN) yang diadakan Pusat Studi Perpajakan Politeknik Keuangan Negara STAN (Puspa PKN STAN), hari Sabtu (1/4) telah terselenggara Seminar Perpajakan Nasional bertemakan “Peran Pajak dalam Mengatasi Kesenjangan Ekonomi di Indonesia”. Tema ini dibagi menjadi beberapa sub tema yang dilihat dari segi institusi penerimaan negara, sudut pandang badan peneliti dalam pemerintah dan luar pemerintah. Seminar yang bertempat di Gedung G PKN STAN ini dibuka penampilan angklung dari Sabdanusa kemudian dilanjut penyambutan Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak), Ken Dwijugiasteadi, beserta jajaran oleh para penari tradisional yang merupakan mahasiswa PKN STAN.

Direktur PKN STAN, Rahmadi Murwanto, mewakili panitia PRPN menyampaikan laporan acara kemudian dilanjutkan sambutan Kepala BPPK, Astera Primanto Bhakti, sekaligus membuka Seminar Perpajakan Nasional.

Seminar diawali penyampaian keynote speech oleh Ken. Dengan gaya yang santai ia menjelaskan ada beberapa alasan yang membuat orang akan patuh membayar pajak, yaitu ketika mereka percaya dengan pemerintah, percaya dengan orang pajak, tidak coba-coba lagi untuk melanggar, taat dengan normal sosial, dan tahu penggunaan pajak untuk apa.

Setelah pemaparan dari Ken, seminar dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh para narasumber dan dimoderatori oleh Henderi, pengajar perpajakan di Universitas Indonesia yang pernah menjadi Presiden Mahasiswa STAN. Materi pertama disampaikan Rofyanto Kurniawan selaku Kepala Pusat Kebijakan APBN.

“Memberantas kemiskinan itu seperti nyuci piring dan sekarang tersisa keraknya, jadi susah membersihkannya,” kata Rofyanto tentang pemberantasan kemiskinan di Indonesia. Ia juga mengatakan jika di beberapa negara maju, pajak di bidang produksi dikurangi atau justru diberi insentif. Tujuannya agar ekonomi berjalan dan pajak konsumsi, terutama yang berbau pemborosan, dipatok tinggi agar menjadi ‘rem’ bagi masyarakat. Hal ini berbanding terbalik dengan Indonesia.

Materi selanjutnya disampaikan Direktur Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan Pajak, Yon Arsal. Dalam pemaparan materi Yon menyebutkan, “Meng-collect pajak itu seperti telur ayam, ambil telurnya saja dan ayamnya dibiarkan hidup agar bisa bertelur lagi.” Ia juga mengatakan kesenjangan tidak mungkin terjadi apabila kesehatan dan pendidikan bisa berada di taraf yang baik.

Setelah dua narasumber dari dalam pemerintahan, materi ketiga disampaikan oleh Yustinus Prastowo yang merupakan Direktur CITA (Center for Indonesia Tax Analysis). “Kalau ingin mengetahui sejarah peradaban, lihatlah sejarah pajak,” ujar Yustinus. Ini karena pemberontakan dari zaman dahulu kebanyakan karena masalah pajak. Untuk mengatasi kesenjangan ekonomi, alih-alih mereformasi institusi atau regulasi, menurutnya lebih efektif apabila ideologi perpajakan yang diubah menjadi lebih berfokus pada keadilan.

 

[Muhammad Rifqi Saifudin}

Nama:
Email:
Komentar:
   
Catatan : Gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Kirim Komentar Anda

berikut ini adalah kumpulan komentar dari artikel ini

Media Center STAN