kursus komputer

Wawancara

PASANGAN #1 GITA-YURIS: Ingin Membangun Kultur Literasi

Gita-Yuris/Dok. MC

 

 

Apa yang mendorong Anda untuk mencalonkan diri dalam pemilihan raya 2015 ini?

G: Saat D-3 (saya) tidak aktif dalam urusan kampus. Ketika lulus dan bertemu banyak orang, ternyata jaringan STAN luas. Seluruh Indonesia ada. Kita kayaknya rugi banget kalau nggak sedari dulu dan saya menyesal karena tidak sejak D-3 berorganisasi dan mencoba memperbesar jaringan, baik dalam kampus maupun luar kampus. Saya ingin memperbesar networking yang ada di STAN karena selama ini belum teroganisir. Alumni Ikanas (adalah) contoh konkret (dari) apa yang diperbuat untuk menjaga networking di STAN.

 

Y: Karena kebanyakan ngobrol sama senior. Jadi, banyak cerita. Jadi dulu itu banyak alumni yang kurang kontribusi sama kampus. Nah, itu jadi landasanku. Dia (senior) cerita, ‘aku lulus di kampus nggak ngapa-ngapain. Padahal aku lulus (dari) almamater STAN. Masa sih aku nggak kontribusi sama kampus. Padahal STAN masih punya nama, lho. Kalau misalkan ditanya lulusan mana sih, (dijawab) lulusan STAN. Tapi di STAN lo ngapain? Di STAN aku nggak ngapa-ngapain.’ Nah, dari pengalaman kakak kelas sendiri yang sering cerita-cerita, masa sih kita nggak bangga sama STAN. Kita nggak cinta sama kampus. Kalau kamu pingin bangga sama kampus, coba kontribusi sama kampus.

 

Setelah mencalonkan diri, apa gebrakan baru dan berbeda yang Anda tawarkan?

G: Secara pribadi aku ingin bangun kultur literasi. Kultur literasi di STAN kayaknya kurang banget. Sayang sekali. Padahal STAN itu produknya produk emas, lho. Tapi kalau cetakannya asal-asalan kok keluarnya biasa-biasa saja. Kalian hanya jadi pekerja-pekerja biasa. Aku lagi ngobrol-ngobrol sama mereka (Media Center dan Aksara) jadi kayak mati suri. Terus kita bikin STAN itu jangan merasa eksklusif lah mahasiswa STAN itu. Kalian ini orang-orang terpilih. Coba tanya deh ke orang-orang di luar kampus, mahasiswa STAN itu kontribusinya apa. Tanya ke kampus lain, mahasiswa STAN ada koneksi apa sih ke kalian. Nanti ya, kayak UKM Bola di sini, kita connect-kan ke universitas lain karena saya melihat orang-orang di sini merasa eksklusif sekali. Tinggal belajar, pulang, kerja. Tidak ada koneksi ke tempat-tempat lain.

 

Y:Kalau aku sih lebih simpel. Jadi dengar curhatan teman-teman, masa sih banyak UKM-UKM yang mati segan hidup tak mau. Nah, ingin hidupin ini semua. Tipikal mahasiswa kan macam-macam. Banyak skil-skil yang berbeda dan saya ingin fokus bagaimana ini biar tumbuh, biar berkembang. Kalau misalkan itu bisa sampai cakupan nasional, kenapa tidak? Nah di satu sisi, misal Koperasi Mahasiswa (Kopma). Nah sayang sekali, Kopma kan sudah lama, sayang banget kalau itu tidak dikembangkan. Di satu sisi Koperasi Mahasiswa mempunyai peran penting dalam dana usaha. Jadi, bisa mandiri. Bagaimana cara mahasiswa STAN bisa lebih mandiri. Nah kalau misalkan mahasiswa STAN sudah berlatih dari sekarang gimana caranya mandiri, aku pikir untuk ke depan korupsi tidak bakal ada. Dan juga sepuluh-dua puluh tahun lagi aku mikir PNS nggak perlu dibayar kerja karena dia sudah biasa hidup mandiri. Itu koperasi, belum yang lain. Kalau misalkan UKM-UKM, ada beberapa komunitas yang mungkin istilahnya ini dijadikan UKM saja. Misalkan DOTA, itu kan komunitas. Beberapa ada yang tidak setuju kalau dijadikan UKM. Kalau dijadikan UKM jadi ribet biasanya. Ada pelaporan dan ada segala macam. Ketika dapat duit harus ngurusin pelaporan, pertanggungjawaban, dan harus ada kegiatan. Nah, kalau misalkan dari eksplorasi teman-teman gimana solusinya, itu jadi komunitas saja dulu namun kita tampung. Kalau mau mengajukan kegiatan oke, bisa kita wadahi. Banyak sekali komunitas yang kecil-kecil yang masih bisa ditampung. Mungkin fokusnya biar yang kecil bisa naik, yang tengah-tengah naik ke atas, yang di atas kalau bisa sampai cakupan nasional.

 

Mengingat jarak Purnawarman-Bintaro yang cukup jauh, apakah kondisi tersebut menjadi kendala bagi Anda sebagai capresma?

G: Nggak juga. Hampir setiap hari ke sini. Memang dekat sih, kecuali memang macet yang bikin jauh. Secara pribadi tidak ada masalah setiap hari ke sini. Jadi sisi positif juga karena belum ada keluarga.

 

Apa rencana Anda terhadap pembentukan Kabinet nanti dan bagaimana treatment Anda terhadap tim sukses?

G: Gambaran besar untuk kabinet sudah, secara teknis untuk perekrutan belum. Tapi yang jelas kami mau menghidupkan satu kementerian yang dulu ada tapi sekarang sudah menghilang, yaitu Kajian Strategis. Kemarin cek di BEM 2013 ada, namun saat cek di kepengurusan BEM tahun ini nggak ada. Karena tim sukses kami (adalah) teman-teman nongkrong, mereka tanpa ada janji-janji pun mau bantu. Nggak ada timses di tempat kami. Setara teman ngopi, diskusi. Kami bukan wakil organisasi, tidak membawa kepentingan organisasi juga.

 

Sehubungan dengan transformasi besar-besaran yang  terjadi di kampus ini, apa pandangan Anda terhadap KM STAN Nasional dan bagaimana keberlanjutan BEM PKN STAN dalam BEM Seluruh Indonesia (SI) jika Anda terpilih?

G: Kita konsepnya (KM STAN Nasional) kayak bangsa. Jadi ada teori Imagine Communities. Kenapa orang-orang merasa bersatu walaupun mereka tidak pernah saling bertemu, tidak pernah bercakap-cakap, salah satunya dengan media. Itu kapitalisme media cetak yang membuat mereka bersatu. Karena bacaannya sama, nih. Karena apa yang mereka hadapi sama. Jadi mereka merasa senasib. Menyatukan paradigma, menyatukan visi misi. Nanti perkuat media untuk ke arah sana.

Terkait BEM-SI akan mengikuti kesepakatan. Mau tidak mau, selama apa yang mereka perjuangkan memang sejalan dengan kita, sejalan dengan pergerakan mahasiswa, tujuan mahasiswa kita dukung. Memang diharamkan demo itu? Enggak kan? Kecuali memang mereka demo untuk hal-hal yang tidak perlu, untuk hal-hal seperti itu mending kita keluar dari BEM-SI. Yang jelas tergantung mereka demonya karena apa.

Enggak semua di BEM-SI buruk. Pasti juga mempunyai kegiatan-kegiatan yang positif. Pertukaran informasi dan segala macam di situ. Di satu sisi, BEM-SI menyadarkan kita, BEM STAN, istilahnya BEM ikatan dinas, dari sekolah kedinasan, (bahwa) harusnya BEM STAN yang menuntut ke pemerintah. Soalnya kita mahasiswa yang dibiayai oleh rakyat. Mau nggak mau kita harus benerin sistem, benerin pemerintah. Jadi masa sih yang berjuang untuk negara malah mahasiswa yang kuliahnya bayar. Sementara kita yang kuliahnya dari yang rakyat tidak bertanggung jawab untuk kebaikan sistem atau mungkin perilaku. Nantinya kita nggak cuma demo lah, bisa tulis-menulis dan itu yang positif. Di satu sisi membangun budaya untuk kita mengkritisi pemerintah tapi dari segi tulis menulis, di satu sisi kita punya tanggung jawab kepada masyarakat.

 

Bagaimana bentuk koordinasi BEM ke depan, jika Anda terpilih, dengan Lembaga?

G: Lembaga bingung konsepnya seperti apa. Maka, ini jadi momentum yang bagus buat BEM. Bukan dalam konteks artian satu jalur dari atas ke bawah. Jadi, nanti kita bakal sistem yang bisa bottom-up juga. Jadi BEM itu punya posisi juga lho di sekretariat. Top-down pasti ada tapi tidak hanya satu arah. Nanti kita coba masuk karena di PKN STAN itu sangat penting sebagai fungsi kontrol.

 

Sebagai salah satu kandidat di Pemira ini, apa imbauan atau pesan yang ingin Anda sampaikan agar mahasiswa tidak apatis?

Y: Apatis, saya melihat dari dua sudut pandang. Yang pertama mungkin mahasiswa itu tak acuh. Maksudnya enggak peduli karena kegiatan di kampus kurang menarik. Yang kedua mahasiswa-mahasiswa yang seperti itu kurang ternaungi. Jadi, mungkin kita bisa melakukan komunikasi personal. Mungkin masih banyak unek-unek yang belum tersampaikan. Tapi kita enggak bisa men-judge anak ini yang kuliah pulang – kuliah pulang, namun sebenarnya di kosan punya banyak aktivitas. Mungkin dia bisa aktif di luar kampus, lebih luas lagi. Dari anak-anak kayak gitu, apa sih yang bisa kita lakukan agar cobalah kontribusi pada kampus.

 

G: Orang apatis itu karena dua hal. Satu karena tidak tahu. Tidak tahu kalau kegiatan itu penting dan ada. Jadi, untuk mengatasi hal ini kita perbesar saluran komunikasi. Teknologi kan semakin gampang digunakan. Misalnya kita kumpulin nih grup-grup Whatsapp ketua kelas. Kita sebar lewat situ, silakan disebar ke kelas masing-masing. Terpadu di BEM nantinya. Satu lagi, kenapa mahasiswa itu apatis biasanya kecewa. Mereka sudah peduli ternyata apa yang mereka pedulikan itu tidak terlalu berharga. Itu sekaligus koreksi pada diri masing-masing.

 

Apa yang akan Anda capai dalam rentang waktu 100 hari kepemimpinan jika Anda terpilih? Apa konsekuensi jika tidak tercapai?

G: Untuk preventifnya seperti ada proker di dalam proker. Kami akan mengadakan evaluasi  secara berkala, bulanan, triwulanan, semesteran. Kalau ada yang belum tercapai di tiga bulan pertama, ayolah kita kebut di tiga bulan berikutnya. Tapi jangan sampai juga numpuk di tiga bulan terakhir. Fokus di 100 hari kepemimpinan adalah pada literasi dan pengabdian.

 

Terakhir, pasangan nomor 1 siap menang dan siap kalah?

G: Menang siap! Siap dua-duanya.

 

[Aprilia A./Mutiara N.M.]

Nama:
Email:
Komentar:
   
Catatan : Gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Kirim Komentar Anda

berikut ini adalah kumpulan komentar dari artikel ini

Media Center STAN