Antara PMK, (Putus) Ikatan Dinas, dan Tes CPNS

Written by admin. Posted in Kolom

Sejak beberapa bulan yang lalu, mahasiswa STAN ribut terus soal tiga hal itu. Sampai bosan saya mendengarnya. Maka dari itulah, saya mencoba membuat beberapa tulisan dan mungkin makian, agar unek-unek saya hilang.

Tapi sebelumnya , saya pengin banget bilang, “Hai mahasiswa (khususnya mahasiswa STAN)! Tolonglah, tolong banget, di-upgrade itu mental dan pemikirannya.”

Kenapa saya bilang begitu? Mohon maaf sebelumnya. Yang saya tahu, mulai dari soal makan sampai soal kerja, kebanyakan orang itu mintanya yang enak, tapi enggak mau mahal atau susah.

Lihat saja soal makanan, maunya yang enak dan murah. Kalau bisa ada yang bayarin senang banget kan, apalagi kalau ada promosi kayak waktu ada restoran yang bagi-bagi nasi goreng gratis. Pada ngantri dah. Soal sekolah, mintanya yang gratis dengan fasilitas selangit. Kalau ruangan panas sedikit aja gara-gara AC mati atau rusak, bisa-bisa nama hewan satu kebun binatang disebut-sebut.

Terakhir, soal kerja. Mintanya yang aman-aman saja: yang enggak ada PHK, yang ada ikatan dinasnya, yang terjamin sampai tua (pensiun). Sudah dikasih begitu, masih ngelunjak pula. Minta penempatan enggak jauh-jauh dari rumah, enggak di pelosok, yang bisa naik pangkat cepat, dan masih banyak lagi.

Mulai sekarang, marilah kita coba meng-upgrade mental dan pemikiran kita tentang masa depan. Kenapa harus bahas sesuatu yang bahkan belum kita jalani? Untuk apa kita terlalu memikirkan bayangan kegelapan masa depan? Kita hidup untuk saat ini. Janganlah hidup dalam bayang-bayang kelam masa lalu dan hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran masa depan. Kalau kita bisa memberikan yang terbaik untuk hari ini, untuk saat ini, kita akan menjadi orang-orang terbaik yang pernah ada.

Orang-orang terbaik? Masa iya ada orang kayak begitu? Saya jawab, ada. Bahkan orang-orang itu sangat dekat dengan kita. Mereka adalah orang tua kita.

Orang tua kita, tidak akan pernah mengingat semua keburukan kita di masa lampau dan tidak akan pernah terlalu mengkhawatirkan masa depan kehidupan kita. Enggak percaya? Tanyakan ke teman-teman kalian yang di-DO dari STAN. Apakah orang tua mereka khawatir tentang masa depan anaknya yang di-DO? Saya berani jamin, tidak. Tanyakan, apakah orang tua mereka masih marah dan kecewa saat ini? Saya jawab lagi, tidak.

Mereka selalu hidup untuk saat ini, untuk kita. Mereka enggak pernah merasa khawatir anaknya enggak dapat pekerjaan, mereka enggak pernah khawatir anaknya jadi pengangguran, mereka juga enggak pernah khawatir sekalipun anaknya cuma bisa kerja jadi tukang antar koran. Mereka tahu, urusan rezeki bukan bergantung pada jabatan dan pekerjaan yang kita pegang, tapi bergantung pada Yang Mahakuasa.

Orang tua memberi pelajaran bagi kita untuk selalu mensyukuri apa pun karunia yang diberikan Tuhan. Mereka mengajarkan pada kita untuk tidak mempermasalahkan hal-hal remeh seperti PMK, tes CPNS, ikatan dinas, dan sebagainya. Bagi mereka, cukuplah kita menjadi anak yang berbakti dan bisa dibanggakan di sini, di Kampus Pelat Merah ini. Bagi mereka, cukuplah kita bisa lulus dari sekolah yang amat susah untuk bisa menjadi mahasiswanya.

Mereka mungkin kecewa karena tidak ada ikatan dinas, karena ada PMK itu, atau karena hal lain. Namun saya yakin mereka akan langsung menyuruh kita untuk mencari pekerjaan lain di luar Kemenkeu begitu STAN tidak lagi menerapkan ikatan dinas. Atau mungkin ketika ada hal lain yang menyebabkan kita tidak bisa bekerja di Kemenkeu, mereka tidak mengajarkan kita untuk lama bersedih atas suatu hal, tapi mengharapkan agar kita bangkit dan mencari kesempatan yang lain.

Jadi, enggak perlu rasanya kita terlalu heboh soal PMK, ikatan dinas, psikotes, tes CPNS, atau apa pun itu. Enggak penting, Saudara-saudara. Saya ulangi, ENGGAK PENTING, SAUDARA-SAUDARA. Masih banyak hal yang jauh lebih layak untuk dipikirkan. Salah satunya adalah, jika memang PMK itu diberlakukan dan saya ternyata tidak bisa menjadi pegawai Kemenkeu, saya akan melakukan … (isi sendiri).

Itu jauh, jauh lebih terhormat dan jauh lebih membanggakan daripada harus galau apalagi terkesan mengemis-ngemis pekerjaan pada Kemenkeu atau pemerintah. Jangan sampai. Kalau mereka tidak menerima kita karena tidak lulus psikotes, jadikan itu sebagai cambuk semangat, jadikan itu sebagai titik balik untuk membuktikan pada para pejabat bahwa kita itu hebat dan lebih baik saat bekerja di luar daripada di bawah naungan Kemenkeu.

Silakan contoh Bu Sri Mulyani. Beliau bukan orang Kemenkeu (bukan PNS), tapi beliau bisa menduduki jabatan sebagai menteri keuangan dan akhirnya “ditarik” ke World Bank. Yakinlah, yakinlah. Tuhan punya rencana sendiri untuk kita. Sekarang masalahnya ada di kita, apakah mau mengikuti rencana dan jalan yang telah ditetapkan itu atau tidak.

Yah, walaupun jalan itu enggak semulus yang diharapkan, tapi percaya deh, semua keberhasilan dan kesuksesan itu akan terasa nikmat dan indah ketika jalan yang dilalui itu terjal dan sukar. Yang dinikmati itu proses, bukan hasil. Yang dibanggakan itu proses, bukan hasil. Dan yang dihargai itu proses, bukan hasil. So, enggak usahlah bahas soal “yang enggak jelas” dan “yang belum jelas” itu. Biarkan semua mengalir karena semua akan indah pada saatnya.

Cerita berikut mungkin bisa menginspirasi. Ada seorang majikan yang memiliki bodyguard dan karenanya dia selalu merasa aman. Suatu hari, terjadi kerusuhan di dekat tempat tinggalnya dan kerusuhan tersebut menjurus ke aksi lempar batu. Sang bodyguard diberi amanah untuk menjaganya agar dia tidak terkena lemparan batu itu.

Mereka berdua pun bergerak menjauh sementara aksi lempar batu itu masih terus berlanjut. Tiba-tiba, sang Tuan terkena lemparan batu dari belakang. Sebenarnya bukan batu, hanya sebuah kerikil kecil. Ia pun mengaduh dan marah pada bodyguard-nya. Tapi saat itu ia tak berani menoleh ke belakang karena aksi lempar batu semakin menggila dan ia ingin cepat-cepat berlalu.

Sesampainya di tempat yang lumayan jauh dari hiruk pikuk, bodyguard-nya bertanya, “Anda tidak apa-apa, Tuan?”

Sang Majikan sebenarnya ingin memarahi bodyguard-nya habis-habisan. Ia merasa kesal karena ada lemparan batu yang mengenai dirinya. Namun, begitu memalingkan wajah ke hadapan bodyguard-nya, ia kaget dan mulai menangis. Mengapa?

Ia melihat bodyguard-nya terluka sangat parah. Ternyata si bodyguard menahan semua batu-batu yang dilemparkan oleh massa tadi dengan tubuhnya. Ia hanya melewatkan satu kerikil kecil sehingga sampai mengenai tubuh tuannya. Sang Tuan pun tidak jadi memarahinya dan segera membawanya ke rumah sakit.

Pesan moral cerita di atas: Terkadang, kita berdoa pada Tuhan agar Ia menjaga kita, agar kita tidak terkena masalah, musibah, atau bencana. Namun seringnya, masalah, bencana, atau musibah itu muncul tiba-tiba, tanpa kita duga. Dengan mudahnya kita merasa sangat marah kepada Tuhan dan bertanya mengapa doa kita tidak dikabulkan.

Padahal sebenarnya bukan tidak dikabulkan. Mengertilah. Karena kasih sayang-Nya, Tuhan menghalau semua masalah dan cobaan besar bagi kita. Meski begitu, tetap saja akan ada masalah yang mengenai kita. Itu pun hanyalah masalah kecil, sangat kecil bila dibandingkan dengan masalah besar yang sebelumnya sudah dihalau oleh Tuhan.

Jadi, mau ada tes CPNS, mau ada PMK ke sekian, mau STAN enggak ada ikatan dinas lagi, atau bahkan besok STAN bubar sekalipun, so what? Jadilah orang yang penuh dengan persiapan dan perhitungan. Jangan jadi orang yang suka mengeluh, tidak bersyukur, atau gampang menyalahkan, mendebat, dan menuntut. Jadilah orang-orang luar biasa, yang bisa saya kenang dan saya banggakan di kemudian hari.

Sekiranya seorang manusia ditakdirkan untuk menjadi seorang tukang sapu jalan, hendaknya ia menyapu jalan sesempurna Michaelangelo ketika melukis, seindah Beethoven ketika mencipta musik, dan seagung Shakespeare ketika menulis puisi. Dengan begitu, semua yang ada di langit dan bumi akan terhenti sejenak mengagumi dedikasi dan karyanya seraya berkata, “Di sana ada seorang tukang sapu yang melakoni perannya dengan luar biasa!”

 

 

Irman Unggul Pratomo
Mahasiswa Tingkat III Akuntansi Pemerintahan

Trackback from your site.

Comments (7)

  • Ave Baskoro

    |

    Wah, setuju saya .. memang benar kita harus memiliki mental dan pemikiran yang jauh dan tidak mudah menyerah .. kita mahasiswa sudah seharusnya mandiri, sudah seharusnya tidak dimanjakan dengan fasilitas2 yang berlebih.
    Maaf, terkesan naif. Saya pun sebetulnya gak menolak fasilitas enak dari STAN selama ini. Namun apapun yang terjadi dimasa mendatang, apapun itu, tidak akan membuat saya menyerah dengan keadaan

    Reply

  • adiekeputran

    |

    terimakasih motivasinya mas/mbak.

    saya setuju, orang tua saya pun setelah saya beritahu apa yang terjadi di STAN, pun juga tetap menyuruh untuk pikirin aja dulu kuliah berikan yang terbaik, masalah PMK, ikatan dinasnya ataupun ada tes2 lainnya, dipikir nanti.

    semoga kita bisa memberikan kontribusi… :smile:

    Reply

  • Mantan Mahasiswa

    |

    baru tahu kalau di jurangmangu lagi berkembang tiga isu itu. tapi saya cuma mau ngomentarin masalah psikotes, tes cpns, atau apalah namanya. kalau oun benar adanya justru itu harus dijadikan ajang pembuktian bahwa lulusan jurangmangu juga berani dan bisa bersaing dengan lulusan kampus-kampus lain. jangan mengurung potensi kita dengan prasangka buruk. kita hanya dituntut untuk melakukan yang terbaik BUKAN dituntut menjadi yang terbaik. :mrgreen:

    Reply

  • Julianda

    |

    :) setuju banget mas.

    “atau bahkan besok STAN bubar sekalipun, so what?”
    mau nambahin. kalau tentang pembubaran STAN dengan segala konsekuensinya yang -mungkin- sudah dibahas di atas, saya kira bener gak ada masalah apapun kalau STAN dibubarkan. Tapi, selama ini, ada manfaat yang lebih besar dibanding dari yang selama ini terlihat dari keberadaan STAN, terutama dari cara penempatannya.

    Reply

  • chizty

    |

    makasi mas atas dongkrakannya kepada mahasiswa STAN. Makasi telah mewakili beberapa dari kami yang juga jengah bolak balik mendengar keluhan mahasiswa STAN. makasih mas :D sangat inspiratif :D

    Reply

  • suhendar

    |

    tetap memberikan yang terbaik untuk STAN ,meskipun bukan ikatan dinas lagi………………

    Reply

Leave a comment