Stania Fair 2011: Lillahi, Family, untuk Negeri
Minggu (18/12) pagi, acara puncak Stania Fair 2011 diselenggarakan di Gedung G. Proker tahunan Keputrian Masjid Baitul Maal STAN yang dulunya bernama Princess Power ini merupakan serangkaian acara khusus muslimah, terdiri dari berbagai perlombaan yang diselenggarakan selama sepekan, sejak Senin (12/12) hingga Sabtu (17/12). Acara puncak terdiri dari seminar dan bazar.
Panitia mengusung tema “Lillahi, Family, untuk Negeri”. Tema yang merupakan gabungan dari tiga bahasa—Arab, Inggris, dan Indonesia—ini mengandung makna bahwa sudah semestinya segala tujuan hidup ditujukan kepada Sang Pencipta. Di samping itu, kaum hawa hendaknya menyadari bahwa selain diciptakan untuk mengabdi pada keluarga, wanita juga bisa berkontribusi untuk negara.
Bunga matahari yang terpilih menjadi simbol Stania Fair 2011 pun memiliki filosofi tersendiri.
“Bunga matahari itu (maksudnya) matahari, penerang bagi semuanya. Jadi simbolnya matahari itu memberikan kebahagiaan bagi semua orang,” ungkap Koordinator Pelaksana Stania Fair 2011, Septrianis Hazra.
Beberapa perlombaan yang termasuk dalam rangkaian Stania Fair 2011 tidak hanya ditujukan bagi muslimah STAN saja, tetapi juga untuk muslimah seluruh Indonesia. Sebut saja speech contest dan lomba tahfiz Quran yang mencakup wilayah Jabodetabek serta lomba cerpen yang mencakup seluruh Indonesia.
Tiga kategori perlombaan lainnya adalah lomba bakiak cermat, badminton, dan memasak. Untuk lomba memasak, panitia berhasil merangkul para ibu di wilayah sekitar STAN untuk berpartisipasi dalam acara ini sebagai juri.
Bazar Terapkan Sistem Bagi Hasil
Setelah menyelenggarakan perlombaan selama sepekan, Minggu (18/12), panitia menghelat acara puncak Stania Fair 2011 dalam bentuk seminar dan bazar. Untuk bazar buku, panitia bekerja sama dengan beberapa penerbit ternama seperti Republika dan Mizan. Ada juga stand yang menjual pernak-pernik muslimah seperti Rabbani, Benayu, dan Samara.
Bentuk kerja sama yang disepakati panitia dan sponsor dari luar ini menerapkan syariat Islam, yakni sistem bagi hasil.
“Karena sistem perdagangan dalam Islam itu kan ada bagi hasil, sekalian kita terapkan ini dan opsinya ada kasir terpusat. (Kalau ada) diskon dari penerbit misalnya, kita potong berapa persen yang untuk kita dan (berapa yang akan) kita berikan ke pelanggan nantinya,” tutur Septri. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sistem kasir terpusat diterapkan agar uang yang mengalir lebih terkoordinasi.
Tak Hanya Akhwat
Tiga pembicara dihadirkan dalam seminar yang terdiri dari dua rangkaian pemberian materi. Materi pertama diberikan oleh Sri Rahayu Purwitaningsih, istri dari Menkominfo Tifatul Sembiring. Ibu yang akrab disapa Bu Yayu ini mengajak peserta berdiskusi tentang “Mengapa Adam Butuh Hawa Buat Ngantor”. Ia mengatakan bahwa wanita pada hakikatnya adalah pembentuk fondasi masyarakat. Apabila seorang ibu berhasil mendidik anaknya dengan teladan akhlak yang baik, karakter masyarakat juga akan baik.
Materi kedua disampaikan oleh Salim A. Fillah, penulis buku Agar Bidadari Cemburu Padamu. Ahmad Umar Al-Faruq, putra Almh. Yoyoh Yusroh yang dikenal sebagai aktivis wanita paling vokal soal pengajuan UU Antipornografi di Indonesia, juga ikut menjadi narasumber.
Yang unik dari sesi materi kedua ini adalah keikutsertaan para ikhwan (laki-laki). Ketika ditanya, Septri menjelaskan bahwa ada alasan tersendiri mengapa panitia turut mengundang peserta laki-laki dalam seminar bertema “Rahasia Penciptaan Wanita” ini, yang mulanya dikhususkan untuk perempuan saja.
“Karena Ustaz Salim ilmunya banyak, sayang kalau hanya dibagikan (kepada) akhwat-akhwat saja. Akhirnya kita ambil (sisi) positif, datengin aja ikhwan. Ternyata alhamdulillah, yang datang 50-an,” ungkapnya.
Abraham Christanto, salah satu peserta laki-laki menyatakan pendapatnya tentang seminar ini, “Intinya bagus banget ya, khusunya tentang bagaimana seorang pria itu tahu kenapa wanita itu diciptakan, fungsinya apa, dan tugas-tugas mulia dari wanita itu seperti apa kita juga tahu. (Dari) penuturan Ustaz Umar, kita dapat mensyukuri bagaimana mulianya ibunda. Karena ada kutipan dari beliau, ‘Kita akan lebih meneladani ibu kita ketika beliau telah tiada’.”
Pesan untuk Mahasiswa STAN
Ketika diwawancarai Media Center, Salim A. Fillah mengatakan, “Pesertanya antusias, pertanyaannya ‘tajam-tajam’, bersyukur sekali. Insya Allah menambah banyak ilmu dan pemahaman, bahkan bagi saya sendiri, insya Allah.”
Pendapat tersebut kemudian diamini oleh Ahmad Umar Al Faruq. Selain itu, kedua narasumber ini juga menyampaikan nasihat untuk mahasiswa STAN.
“Karena menjadi pemegang amanah negara itu memang memerlukan daya yang jauh lebih besar, jangan bosan berilmu, jangan bosan menambah pengetahuan, jangan bosan melatih keterampilan. Insya Allah ilmu itu akan meringankan tugas kita karena kita bisa mengerjakan semuanya dengan lebih efektif dan efisien, insya Allah,” imbau Salim A. Fillah.
Pesan senada juga disampaikan Ahmad Umar Al Faruq, “Belajar, kemudian jangan lupa tuntut ilmu syar’i. Jadilah kalian itu abdi-abdi negara yang amanah dan tanggung jawab di saat ini dan juga di masa yang akan datang.”
[Euis K./Sarah K.]
Trackback from your site.


