Challenge in Panti: Bukti Jiwa Sosial Mahasiswa STAN Tidak Mati

Minggu (13/11), Lapangan Panti Asuhan Al-Ikhwaniyah dan Al-Anwar ramai oleh tawa dan canda anak-anak panti. Dalam rangka acara puncak Challenge in Panti (Chip), Interaction bersama volunternya menyelenggarakan bakti sosial bertema “My Challenge is My Charity” di kedua panti asuhan tersebut.
“Chip ini adalah salah satu program BEM. Di Depsos kan ada (program kerja) yang namanya Interaction (Integrated Social Action). Nah, Chip ini salah satu programnya Interaction. Secara tidak langsung, ini termasuk program Depsos BEM,” tutur Andi Reza Ferdiansyah, Menteri Sosial BEM STAN yang juga ikut menghadiri acara tersebut.
Mengupayakan konsep berbeda dari acara amal biasanya, panitia memutuskan untuk mengemas kegiatan sosial ini dalam bentuk kompetisi. Dua puluh mahasiswa STAN yang terpilih menjadi volunter terbagi dalam dua tim, Tim 1 dan Tim 2. Selain untuk kategori tim terbaik, panitia juga menyediakan penghargaan untuk kategori The Most Dedicated Volunteer dan The Best Volunteer.
Setiap tim ditantang untuk menyelenggarakan bakti sosial di dua panti asuhan berbeda, mulai dari penyusunan konsep acara, penggalangan dana (donation challenge), hingga penyelenggaraan acara puncak (charity challenge) di panti asuhan. Tim 1 kebagian beraksi di Panti Asuhan Al-Anwar (Pondok Betung), sedangkan Tim 2 di Panti Asuhan Al-Ikhwaniyah (Ceger). Berbagai permainan dan hadiah menarik serta acara makan bersama sanggup membuat anak-anak panti berseri-seri.
“Kita ngambil konsep Funti, Fun-fun with Panti. Yang penting mereka terhibur,” papar Rizki Arief Kurniawan, salah satu anggota Tim 2.

Tanpa Kucuran Dana dari BEM
Karena ide acara yang muncul mendadak, Chip tidak mendapat kucuran dana dari BEM.
“Soalnya ini idenya tiba-tiba aja muncul, sedangkan dari BEM kalo (acara) enggak dianggarkan kan (dananya) enggak bisa cair,” jelas Reza.
Meski begitu, Chip tetap dapat berjalan dengan lancar. Terbukti, donation challenge yang dimulai tanggal 25 Oktober hingga 12 November berhasil menghimpun dana sebesar Rp 9,2 juta. Konsep penggalangan dana dibuat oleh dua tim yang berkompetisi, mulai dari berjualan makanan, menghimpun donasi dari kelas-kelas dan alumni, hingga mengamen di jalan.
“Bahkan mereka (Tim 2) ngamen di fly over Bintaro untuk mengumpulkan dana. Kalau yang Tim 1 bikin box charity di acara-acara. Waktu workshop Pekan Ilmiah Mahasiswa, mereka buka box charity di workshop itu. Pokoknya kalo ada acara-acara mereka selalu sedia boks,” jelas Aldy Wijaya, Steering Committee Chip.
Dana yang diperoleh tersebut tak hanya digunakan untuk donasi ke panti asuhan, tetapi juga untuk Rumah Belajar Sahabat Bumi di Sarmili. Untuk ke depannya, panitia berharap mahasiswa yang terlibat dalam acara Chip kali ini akan bersedia untuk berpartisipasi lagi dalam kegiatan sosial lain seperti mengajar di rumah singgah atau panti asuhan.
“Acara-acara seperti ini bisa lebih digalakkan biar bisa merangsang anak STAN biar enggak apatis. Minimal mereka punya jiwa sosial,” tutur Rizky.
Melebihi Ekspektasi
Acara yang terselenggara tak lebih dari sebulan ini diakui panitia berjalan dengan baik, bahkan melebihi target yang ditetapkan. Kegiatan donation challenge yang ditargetkan panitia dapat menghimpun dana sebesar Rp 4,4 juta ternyata berhasil mencapai nilai lebih dari dua kali lipatnya.
“Kesan untuk temen-temen luar biasa, dalam waktu tiga minggu harus galang dana. Dikasih modal cuma 250 ribu rupiah, tapi mereka bisa dapet 9,2 juta,” ungkap Aldy.
Reza mengaku bahwa dirinya sempat khawatir jumlah volunter tidak mencapai target. Pasalnya, waktu pelaksanaan Chip ini berdekatan dengan pekan UTS ganjil. Namun respon positif mahasiswa STAN mampu membuktikan bahwa tidak sedikit mahasiswa STAN yang peduli pada lingkungan sekitarnya.
“Terus terang awalnya saya agak deg-degan juga. Kan mau ujian harus belajar, tapi mereka (volunter) mau meluangkan waktunya untuk berbagi kebahagiaan dengan yang lain, walaupun mungkin ada kepentingan-kepentingan pribadi yang lain,” tuturnya.
[Novia Fatma R.]
