Alam Tak Ramah, Puncak Elbrus Tak Terjamah

Written by admin. Posted in Berita, Hard News

Sabtu (17/9) malam, pos Stapala diramaikan oleh para anggota dan alumninya. Kesibukan itu terkait dengan penyambutan Tim Ekspedisi Elbrus Stapala yang baru saja selesai menjalankan misinya di tanah Rusia. Tim tersebut berangkat sejak 4 September lalu guna menaklukkan Gunung Elbrus, puncak tertinggi Eropa  yang termasuk dalam rangkaian Seven Summits. Keempat atlet pendaki, Eko Santoso (Akuntansi Pemerintahan), Frassetto Dahniel (Administrasi Perpajakan), Hifzil Waldy Lahuda (Akuntansi Pemerintahan), dan Prabu Kusuma Nusa Putra (alumnus STAN yang saat ini bekerja di BKF), berhasil kembali ke kampus Ali Wardhana dengan sehat dan selamat.

 

Seven Summits yang Tertunda

Istilah Seven Summits merujuk pada tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh benua, yakni Kilimanjaro, Denali, Elbrus, Aconcagua, Carstensz Pyramid, Vinson Massif, dan Everest. Upaya penaklukan Seven Summits ini telah dilakukan Stapala sejak tahun 1991. Saat itu, Gunung Elbrus di Rusia dipilih menjadi gunung pertama yang hendak dicapai. Namun, perang yang sedang berkecamuk di Rusia kala itu mengakibatkan para atlet Stapala sudah dideportasi sebelum pendakian sempat dimulai. Elbrus pun gagal ditaklukkan.

“Jadi, dari tahun 1991 sebenarnya kita udah ke Elbrus. Cuma ketika kita sudah mengirimkan atlet sampe sana, ternyata di Rusianya itu lagi perang, Uni Soviet pecah. Nah, akhirnya karena di sana lagi perang, kita tidak sampai ke puncak Elbrus,” ungkap Manajer Ekspedisi Elbrus Stapala, Zaki Murtadho Dhiyaul Haq.

Ekspedisi berlanjut di tahun berikutnya dengan target Gunung Kilimanjaro di Afrika. Gunung ini menjadi Seven Summits pertama yang berhasil ditaklukkan Stapala. Setahun kemudian, ekspedisi kembali dilanjutkan dengan target Carstensz Pyramid. Sayangnya, gunung yang terletak di Papua ini belum berhasil ditaklukkan.

Mengapa Elbrus?

Selain mewujudkan pencapaian puncak Elbrus yang sempat tertunda selama hampir dua dekade, ada alasan lain yang mendasari pemilihan Elbrus dalam ekspedisi tahun ini, yaitu musim pendakian Elbrus yang berkisar dari bulan Juli hingga September. Libur kenaikan tingkat STAN yang juga berada di rentang waktu tersebut, Agustus hingga September, memungkinkan atlet-atlet Stapala untuk melakukan ekspedisi ke Elbrus.

“Waktu kuliahnya kita kan mepet. Bisanya pas liburan. Liburan itu sekarang bulan September. Elbrus, musim pendakiannya juga cocoknya bulan itu,” tutur Zaki.

Alasan lainnya terkait dengan biaya ekspedisi. Misi pendakian Elbrus ini dalam rencana anggaran menghabiskan Rp200 juta untuk empat pendaki. Nominal tersebut, menurut Zaki, masih terjangkau dibandingkan dengan biaya yang diperlukan untuk mendaki gunung-gunung tertinggi lainnya yang bisa mencapai Rp300 juta per atlet.

Mengenai pendanaan, selain mencari sponsor, Stapala juga melakukan upaya lain untuk menghimpun dana, yakni melalui penjualan kaus dan pengumpulan kertas bekas dari mahasiswa STAN. Kertas bekas yang berhasil dihimpun tak kurang dari 2,5 ton.

“Ada yang dari penjualan kertas bekas juga, kita dapet enam juta  tujuh ratus sekian. Kita mengucapkan terima kasih kepada semua anak STAN atas partisipasinya. Angka segitu jika dibanding 200 juta enggak ada apa-apanya, tapi itu akan memberikan rasa bahwa mereka menjadi bagian dari kegiatan ini. Kita memang punya tujuan, dengan kertas ini kita semua dapat berpartisipasi,” tutur Eko.

Tak Capai Puncak

Tim Ekspedisi Elbrus Stapala kali ini juga gagal mencapai puncak Elbrus yang memiliki ketinggian 5.642 mdpl untuk puncak barat dan 5.622 mdpl untuk puncak timur. Rencana untuk melakukan summit attack yang bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional, 9 September 2011, tidak dapat terealisasi karena badai hebat memaksa mereka untuk kembali turun meskipun jarak menuju puncak Elbrus hanya tersisa 542 meter lagi.

“Sebenarnya di hari kita akan summit attack, kita udah dikasih tahu sama forecast-nya kalo (cuaca) akan clear, tetapi di sana pun prediksi cuaca ternyata meleset,” tutur Eko. Ia menjelaskan bahwa saat badai mengadang, mereka berada di jalur puncak timur. Ia sendiri sudah mengajak asisten pemandu ke puncak barat, tetapi asisten tersebut tidak memiliki wewenang untuk memberi komando ke tim lain yang juga sedang melakukan pendakian.

“Lalu diputuskan sama guide-nya kalau waktunya enggak cukup dan badai akan lebih kenceng. Jadi kita akan menuju puncak timur, itu pun kalau bisa. Akhirnya (ketika) kita berada pada ketinggian 5100 mdpl, badai udah semakin kenceng. Ramon menggandeng saya dan Daniel menggandeng Prabu, kita lari turun menuju second base camp pada ketinggian 3800 mdpl,” jelas Eko yang disetujui Frassetto dan Hifzil. Ramon dan Daniel adalah pemandu Tim Ekspedisi Elbrus Stapala selama pendakian.

Menurut Achmad Zulfikar Fauzi, Ketua Umum Stapala, keselamatan Tim Ekspedisi Elbrus Stapala sudah menjadi anugerah tersendiri. “Kalau masalah cuaca kan urusan Tuhan Yang Mahakuasa. Bagiku yang terpenting keselamatan saudara-saudara Stapala. Yang kedua, keselamatan saudara-saudara Stapala. Yang ketiga, ya tetap keselamatan saudara-saudara Stapala,” tuturnya.

“Pastinya kita akan berusaha lagi, kita akan mengulang ini lagi. Justru dengan pengalaman ini kita akan melangkah lebih mantap,” pungkas Eko optimis ketika ditanya mengenai harapan tentang pendakian berikutnya.

 [Annisa /Ericha/Irfan/Novia]

Trackback from your site.

Comments (6)

  • Muhamad Rahmat

    |

    sukses terus buat STAPALA, semoga pendakian-pendakian berikutnya bisa lebih sukses lagi.
    alhamdulillah yah di sini situasinya kondusif ga ada komentar-komentar kek di RMOL. :mrgreen:

    Reply

  • akun bodong

    |

    kok sepi komen ya. Apa karena diminta masukin email ya?

    Reply

  • si bodong lagi

    |

    nah, dah saya coba pake email bodong, dan bisa komen dengan identitas bodong ternyata. Mari-mari komen di sini. asal yang membangun yaaa :P

    Reply

  • Muhamad Rahmat

    |

    ga ada yang berani mas bodong kalo komen pake identitas asli, beraninya pake anonim doang. :devil:

    Reply

  • muamdisini

    |

    salut untuk STAPALA..torehkan selalu jejak-jejakmu di penjuru puncak dunia…

    Reply

  • Herdian

    |

    Mantab Jaya! Ternyata naik gunung itu aseek, haha

    Reply

Leave a comment