Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Berita, Hard News » UAS Diperpanjang, Tiket Melayang

Kaget sekaligus heran. Ekspresi wajar yang tergambar dari raut wajah mahasiswa STAN saat mendengar kabar bahwa Ujian Akhir Semester (UAS) semester genap berlangsung selama tiga minggu. Apa pasal?

UAS  semester genap yang akan dimulai Senin, 9 Agustus 2010, memang tidak biasa. Menurut kalender akademik prarevisi, tidak ada lagi kegiatan akademik untuk semester genap per tanggal 23 Agustus 2010. Namun, kali ini waktu UAS diperpanjang hingga memasuki minggu ketiga. Perubahan yang mendadak dan kurang sosialisasi dari pihak sekretariat ini mengimbas pada jadwal kepulangan mahasiswa. Akibat adanya revisi, prediksi mahasiswa mengenai tanggal kepulanganpun meleset. Tak sedikit mahasiswa yang mengeluhkan hal ini.

“Aku terlanjur beli tiket untuk harga promo. Karena jumlahnya terbatas dengan harga yang jauh lebih murah, kita nggak bisa kembalikan tiketnya lagi kalau nggak jadi pulang. Terpaksa harus cari orang yang mau beli tiket ini sama kita deh,” ujar Eli, seorang siswi kelas 1Q Akuntansi, yang mengaku telah setahun tidak pulang ke kampung halamannya di Medan.

Alasan di Balik Kebijakan

Saat ditanya mengenai masalah ini, Kepala Ajun Akuntan STAN, Nur Aisyah Kustiani mengatakan bahwa kebijakan yang diambil sekretariat adalah yang terbaik, didasarkan pertimbangan yang matang, dan disetujui semua spesialisasi. Ia mengemukakan berbagai alasan yang menjadi dasar diambilnya keputusan ini.

Pertama, peningkatan standardisasi pengawas ujian. Sebelumnya, persyaratan untuk menjadi pengawas ujian adalah: lulusan minimal SMA/sederajat, berkomitmen, dan diajukan oleh para pegawai STAN. Namun, untuk UAS kali ini, pengawas harus berpendidikan minimal S-1/sederajat. Para pengawas dipilih secara close recruitment, yakni orang-orang yang direkomendasikan oleh pegawai. Kemudian, para calon diseleksi. Rangkaian proses seleksi terdiri dari pengumpulan berkas, pendidikan dan pelatihan pengawas, serta ujian tertulis. Ternyata, pengawas yang memenuhi syarat hanya berjumlah sekitar delapan puluh orang.  Padahal normalnya, dibutuhkan sekitar 120 pengawas untuk tiap ujian.

“Ketersediaannya tidak bisa sebanyak kalau kita ambil dari Arhanud (Artileri Pertahanan Udara-Kodam Jaya Bintaro),” terang Aisyah.

Aisyah juga mengatakan bahwa pihak sekretariat telah membahas berbagai alternatif, mulai dari meminta bantuan pegawai BPPK sampai mengajak tentara untuk kembali bekerja sama. Namun, alternatif tersebut tidak memungkinkan. Untuk meminta bantuan pegawai BPPK, risiko yang diambil lembaga akan cukup berat. Sebab, dengan adanya remunerasi pegawai, tentu pekerjaan kantor lebih diproritaskan. Besar kemungkinan mereka tidak bersedia menjadi pengawas ujian. Sementara, untuk bekerja sama kembali dengan tentara, bukan pilihan utama. Mereka memang memiliki komitmen tinggi dan kuantitas sumber daya yang cukup. Akan tetapi, berkaca pada pengalaman, banyak terjadi gesekan antara lembaga dengan pihak tentara.

“Mereka kurang mau diatur, karena boss mereka juga menginginkan mereka mengatur sendiri pekerjaan mereka. Misalkan untuk rolling pengawas, ada satu kelas yang pengawasnya itu-itu saja,” ungkap Aisyah.

Kedua, waktu ujian yang bertepatan dengan bulan Ramadan. Tiga sesi ujian dalam satu hari di bulan Ramadan dikhawatirkan menjadi beban bagi pengawas.

“Dikhawatirkan akan membebani pengawas, terutama (pengawas spesialisasi) Akuntansi  jika dipaksa ujian dalam tiga sesi,” ujarnya.

Ketiga, pemerataan pengawas ujian. Jumlah pengawas yang terbatas memaksa adanya keadilan untuk semua spesialisasi dalam penjadwalan ujian. Normalnya, dibutuhkan 50 pengawas untuk spesialisasi Akuntansi, 30 untuk Pajak, serta 40 sisanya dibagi rata untuk Kebendaharaan Negara, PBB, dan PPLN. Akan tetapi, saat ini jumlah pengawas hanya dua per tiga dari jumlah normal. Dampaknya, tidak semua spesialisasi mengikuti ujian di hari yang sama. Bahkan, ada spesialisasi yang tidak mendapat jatah ujian dalam satu hari penuh.

“Lembaga kan punya trade off yang banyak. Untuk jadwal (ujian) seperti biasanya, mata kuliah yang (diujikan) banyak, waktu (ujian diharapkan) pendek. Untuk saat ini, kualitasnya (pengawas) bagus, namun harus ada yang dikorbankan,” tutur Aisyah.

Lambatnya sosisalisasi dari sekretariat, dan keterburu-buruan mahasiswa dalam mengambil keputusan (baca: membeli tiket), harus menjadi pembelajaran bagi pihak sekretariat maupun mahasiswa. Mahasiswa diharapkan untuk menunggu kepastian lembaga mengenai suatu kabar. “Setelah isu beredar, harusnya mahasiswa jangan dulu beli tiket,” ucap Aisyah.

“Sekretariat kan sumber pengendalian. Kita juga mau yang terbaik untuk mahasiswa. Karena itu, keputusan yang diambil telah melalui berbagai pertimbangan yang diusahakan tidak merugikan orang banyak,” pungkasnya.

(Euis Kurniasih)

14 Comments

  1. Aang says:

    Saya justru menilai perencanaan dari pihak kampus itu sangat kurang.. Seharusnya kalo memang meningkatkan mutu pengawas ya dari dulu dibicarakan, jangan mepet2 ujian gini.. Kalo sudah terlanjur mepet ya sebaiknya ditunda sampe taun ajaran selanjutnya.. Saya heran, di kampus2 lain, kalender akademik tidak pernah berubah, tidak ada yg namanya kalender akademik direvisi. Semua sudah fixed ketika awal perkuliahan, yg biasanya dibuat oleh BAAK. Jadi ada kepastian,, tidak terkesan berubah2 dan terlihat kurang persiapan dlm membuatnya..
    Saya sendiri termasuk mahasiswa yg kehilangan tiket.. Bukan maksud saya terburu2 membeli tiket, tapi semuanya saya lakukan demi org tua saya. Kita semua tau tiket yg dibeli jauh2 hari harganya bisa miring menjadi seperempat nya. Saya bukan org kaya, jd saya harus rajin2 mencari tiket promo.. Awalnya saya mendapat tiket seharga 400rb.. Itupun dari hasil tabungan saya,krn orang tua saya masih mencarikan uang utk menggantinya..
    Sedangkan skrg harga tiket utk saya pulang sudah mencapai Rp 1 juta bahkan lebih.. Saya bingung dapat dari mana uang segitu.. Org tua saya juga nampaknya sedih, takut tdk bs membelikan saya tiket.. Uang tabungan saya juga sudah habis utk membeli tiket yg hangus itu..

    • admin says:

      “Saya heran, di kampus2 lain, kalender akademik tidak pernah berubah, tidak ada yg namanya kalender akademik direvisi.”
      kampusku dulu pernah kok beberapa kali ada perubahan gitu.tapi yang sabar aja ya,Mas..

      • toel says:

        woe admin pake nama pribadi woe…

        @Aang: sy dnger temen2 dr PPLN (ato PBB y?) ngumpulin tiket n dikasi k sekre…cuma nggak tau juga duit bisa balik atau cuma dapet permintaan maaf…
        -ikutan sedih baca komennya >.<-

    • opank says:

      tiketnya dijual di FJB Kaskus aja gan :beer:
      saran aja nih

  2. rrr says:

    Sudahlah yg berlalu biarkan berlalu.
    Smoga lembaga qt bsa memprbaiki.
    Smoga ini pertama dan terakhir Jangan bikin mahasiswa/i
    Tertipu lagi dgn kalender akademik !!!!
    K’na yg kuliah dsni khan bukan cma dr skitaran kampus
    Tp ada juga yg dr luar kmpus
    Yg butuh kepatian dikarenakan hrga tket pesawat.
    Seandainya lembaga yg belikan sich gg jadi masalah.
    Sesuka mereka mengganti jadwal.

    SEMOGA INI KESALAHAN YG PERTAMA DAN TERAKHIR.
    QT DI TUNTUT PROFESIONAL MAKA LEMBAGA PUN HARUS PROFESIONAL MENGHADAPI SETIAP MASALAH YG DI HADAPI.

  3. limi says:

    Sudahlah yg berlalu biarkan berlalu.
    Smoga lembaga qt bsa memprbaiki.
    Smoga ini pertama dan terakhir Jangan bikin mahasiswa/i
    Tertipu lagi dgn kalender akademik !!!!
    K’na yg kuliah dsni khan bukan cma dr skitaran kampus
    Tp ada juga yg dr luar kmpus
    Yg butuh kepatian dikarenakan hrga tket pesawat.
    Seandainya lembaga yg belikan sich gg jadi masalah.
    Sesuka mereka mengganti jadwal.

    SEMOGA INI KESALAHAN YG PERTAMA DAN TERAKHIR.
    QT DI TUNTUT PROFESIONAL MAKA LEMBAGA PUN HARUS PROFESIONAL MENGHADAPI SETIAP MASALAH YG DI HADAPI.

  4. andini says:

    sedih sekali membaca komentar Anda, mas Aang :’(
    Semoga ada pihak sekretariat yang membaca berita ini.
    Semoga siberi kemudahan dalam perjalanan-ke-orang-tua.
    regards,

  5. dania says:

    iya, kalo mau dijual, kan promo tu, skrang aja, masih bisa ada yang beli, masih dapet gantinya, dan tiketnya masih bisa diganti nama (tetep bayar).. ayooo buruan buruan!!

    • Aang says:

      # admin: iya memang bener ada yg ngumpulin tiket,, total tiket yang terkumpul lebih dari 50 tiket.. tapi sayang gak ada perubahan dari pihak kampus..

      # limi: “QT DI TUNTUT PROFESIONAL MAKA LEMBAGA PUN HARUS PROFESIONAL MENGHADAPI SETIAP MASALAH YG DI HADAPI.” –> iya saya sangat setuju dengan komentar anda ini.

      # dania: gak bisa dania,, kalo memang bisa sudah dari dulu saya ganti nama/ ganti tanggal.. karena ini tiket promo.. sudah gak bisa diapa2in lagi..

  6. gondhez says:

    iya seleksi lebih bagus bt pengawas, tapi sayang ATTITUDE-nya masih KURANG SEKALI…inget, kita adalah customer bukan raw material!!

  7. Yudhi says:

    Yang bilang ujian 3 minggu menyesatkan, sebenarnya cuma 2 minggu lebih sehari.

    Kami sudah berusaha sekeras mungkin agar jadwal tidak lebih dari 2 minggu, dan itu melalui perdebatan panjang antar spesialisasi, antar bidang akademis dengan sekretariat, ini yang membuat pengumuman menjadi lama.

    Terus untuk sebab kenapa jadi dua minggu lebih dikit memang benar apa yang ditulis, ditambah lagi tanggal 17 agustus libur.

    O ya, satu lagi hal kecil untuk media center, kalau menulis jabatan orang diperhatikan ya. Dari dulu saya lihat sering salah atau kurang lengkap. Di atas bu Aisyah ditulis kepala Ajun Akuntan. Yang benar adalah Kepala Sub Bidang Tata Laksana Pendidikan Ajun Akuntan. Karena selain jabatan tersebut ada Kepala Sub Bidang Pengembangan Pendidikan Ajun Akuntan yang dijabat oleh Pak Budi Setiawan, dan atasan mereka berdua yaitu Kepala Bidang Akademis Pendidikan Ajun Akuntan yang dijabat oleh Pak Fadlil Usman. Kalau cuma kepala Ajun Akuntan bisa menimbulkan kerancuan. Nanti malah dikira Kepala Bidang…
    Memang sih ini hal kecil tapi kalau yang disebut tidak berkenan bisa jadi masalah. Untung Bu Aisyah Baik.

Leave a Reply

© 2010 Media Center STAN · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress