Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Kolom » Mahasiswa Ideal

Seorang mahasiswa ideal adalah seorang yang seimbang. Dia tahu bagian-bagian yang harus diisinya dengan porsi yang cukup, tidak terlalu berkutat dalam buku-buku tebal perkuliahan, tetapi tidak teramat ekstrim dengan kegiatan luarnya. Bukan berarti dia orang pas-pasan dengan segelumit pengetahuan atau pengalaman pada beberapa sudut, justru karena kesadaran akan pentingnya kuliah dan kegiatan ekstranya, ia berhasil membuatnya akur, teratur, dan rapi. Dalam menggeluti salah satu bidang, dia tidak pernah over. Dirinya terlalu mahal untuk fanatik. Dari sini, dia mengatur siasat untuk tidak terguling. Ia seimbang.

Seorang mahasiswa ideal mengetahui betul dirinya. Ia tahu titik-titik kelemahan yang harus disembuhkan, kelebihan-kelebihannya yang lebih baik tidak berubah menjadi kelemahan, hingga waktu-waktu untuk berhenti dan merenung sejenak—untuk mundur selangkah dua langkah, guna kemudian meloncat, meletuskan kejutan baru. Dia tahu benar kapan hatinya capek dan perlu diganti. Kemalasan juga dibutuhkan untuk memijat urat-urat kaku biar kendor, menjadi sehat dan tidak mudah ringsek. Dia mengerti gejala-gejala ketidaknormalan dirinya. Dia ahli dalam terapi mengatasi baik kesehatan, kesakitan—maupun keduanya, serta jasmani, rohani, atau keduanya. Karena sudah telanjang di depan dirinya sendiri, ia tidak pernah merasa perlu untuk malu. Segala yang dihantamkan sekitarnya hanya sentilan angin yang menggelitik dirinya untuk meledek. Dirinya bukan siapa-siapa yang dikenal lebih baik oleh orang lain. Ia tidak pernah terpengaruh, terseret dalam bisikan, rayuan, cekikan, atau ancaman siapa pun. Ia mantap dalam pangakuan tubuhnya sendiri. Tentu, itu tak segores pun mengubah dirinya jadi sombong. Sudah jelas, ia adalah apa yang setiap hari dilihatnya dalam cermin, tak lebih tak kurang dari itu. Kalau ada yang meneriakinya lain, meskipun dari jantung hati kecilnya yang tersesat, ia tak ambil peduli. Ia anggap itu meleset, walaupun itu juga bagian dari dirinya sendiri.

Seorang mahasiswa ideal tidak boleh sempurna. Ia harus benyok, pincang, cacat, dan babak belur pada sesuatu. Bahkan, kalau perlu mungkin ia tidak sempurna sama sekali. Seperti kebanyakan yang lain, ia melakukan kesalahan berjuta-juta kali, memamah pahitnya kegagalan tiap detik, dan tidak ubahnya seperti mayat yang masih mampu kedip. Soalnya, jika sempurna telah tercapai, sebenarnya waktu itu juga ia telah bermain api kebakaran pribadinya sendiri. Dia tidak lagi dihujani rudal pedas tiap musuhnya. Ia jarang dilempari hukuman-hukuman kemiringan otaknya, yang sebetulnya keasyikan tersendiri. Ia selalu dikeroki oleh penghargaan dan pujian dimana pun. Ini membuatnya berkarat, reyot, dan lama-lama roboh. Kelengahan, keteledoran, ketumpulan, kekurangtelitian, mudah menyelip lewat angin dia hisap. Akibatnya, dia tidak lagi memperhitungkan apa yang sepele dan kecil sekali.

Saat seperti itu, ibaratnya seekor gurem, kutu, semut yang tiap hari dia injak, tiba-tiba menyedot darahnya. Makhluk-makhluk kecil itu menghisap sebagian, sampai ludes apa yang dia punya, sampai ia hanya tinggal tulang-kulit berpenyakit yang dijauhi orang. Sementara di sisi lain, basil-basil tadi bisa berevolusi jadi sempurna.

Mahasiswa ideal harus melayang. Ia tidak mungkin dikatakan sempurna bila ia sudah atau selalu sempurna. Dia diwajibkan memelihara borok di jidatnya untuk bahan pencambuk agar tiap hari selalu membersihkan mukanya. Dengan begitu ia membersihkan dirinya secara rutin, tanpa margin perubahan konsentrasi ketidaksempurnaan yang mencolok.

Seorang mahasiswa ideal dituntut menyalahkan dirinya sendiri demi mendekati kebenaran yang licin sekali ia pegang. Ia memunguti dari mana saja bola-bola mata yang berceceran, mata-mata yang memiliki pandangan bermacam-macam tentang segala sesuatu yang boleh jadi benar semua. Dari situ, dengan tebal dan berani ia membedah dirinya sendiri dalam renungan-tindakannya. Ia menarik benang tak terlihat yang bisa menggelengkan dan mengangguk-anggukkan kepala sebanyak mungkin orang. Sampai akhirnya, ia menelurkan aksi yang tidak kacangan untuk mengubah secara plus keberadaan diri dan bumi yang selama ini dipijaknya.

Yayan Puji R.

Pemimpin Redaksi Media Center STAN 2009/2010

Leave a Reply

© 2010 Media Center STAN · Subscribe:PostsComments · Designed by Theme Junkie · Powered by WordPress